Minggu, 26 Juni 2016

Cinta ku normal_kan

cinta ini yang menuntunku padamu
menyerahkan semua harga untuk dirimu
tak ku tutupi serasa rasa ini
ku tuangkan ku katakan dengan bahasa mudah dimaknai
aku ingin kau mengerti
kamu wanita yang  mudah untuk dicintai
tanpa alasan
tanpa paksaan

waktu yang tak bisa disalahkan
karena diam menjadi sebuah alasan
waktu ini tak ku korbankan untuk mu
mendekat nya pula hanya semampuku
namun ketika rasa ini ingin memudar
kau malah datang membuatku tak sadar
tak akana mampu kau pahami
tak yakin kau akan mudah mengerti
cara kita berbeda
tangan yang pernah menyentuhku tak banyak, namun bermakna
kau yang mampu membuat aku berpikir
lebih lanjut sebagai yang terakhir

namun salah ketika semua terlambat
aku buta yang membuat sadar tersendat
rasa ini semakin menggebu
bukan sebagai kekasih penebar nafsu
ingin memaknakan kehidupan agar tak palsu
hancur sudah
harapan ini ku rasa hanya akan menyiksa parah
pernah ku tunggu sampai menikah
pernah ku nanti sampai aku tak tau arah
namum kebahagiaannya harus ku sadari
cinta sayang ini tak cukup berarti
tak cukup membuatmu berpikir cinta ini lebih besar darinya

salah
salah dan sekali lagi salah
harapan ini akan kalah
dan aku akan tersungkur ke tanah
jangan tinggalkan
biarkan dia ada sampai tersampaikan
sampai dia paham harus bagaimana
kepada hati yang siap terluka
rusak semuaku
remuk rasaku

tak bisa kembali semua kataku
tak bisa ku telan semua maknaku
setia kan berujung luka, jika sendiri
harapan kan berujung sakit hati, jika tersampai

"sehebat apapun ku pertahankan, tak kan pernah bisa ku lawan
segala ketetapan tang Tuhan tuliskan, kusadar ini jawaban yang tuhan berikan
dengan pasrah engkau, ku ikhlaskan "

Sabtu, 25 Juni 2016

Jujur

harus ku mulai dari mana
kisah ini salah dan selalu membuat aku bertanya
terbentur situasi yang tak mampu dirubah
harus berakhir atau menempel di tanah
rasanya aku ingin menyerah
tak ada guna ku pertahankan dengan memeras darah
rasanya pikir ini mulai gerah
muak dengan wajah penuh sandiwara
tertutup senyuman diraut muka

lelahku bermunculan di wajah
gurat gurat nyata penuh dengan amarah
timbul dengan rona senyap
termakan api cemburu asap mengepul engap
bahagia dan derita bercampur aduk
bersama ku rasakan saling tertumpuk
ku katakan berkali
ku sampaikan dengan pahamkan ini
namun masih tabu semuanya
terlihat jelas tatapmu pada matanya
pandangan pasti tanpa peduli
tak hiraukan bergitu banyak gunjing menanti

ku pahamkan berkali dan tak mau mengetti
egoisnya rasa masih tetap memaksa
bertahan dalam kepastian
kepastian tanpamu dalam pelukan
sebelumnya aku yakin dengan semua
genggaman tanganmu erat begitu nyata
atau ini hanya kamuflase
yang membuat pandangan ini jadi klise

cinta pidahalah rumah dari nya
jelas tak akau dapat meski kau merapat
tak akan kau mengerti meski kau pahami
karena hati punya ingin sendiri