Ku buang dengan tali seutas
Kesal ini ku paksa pergi lepas
Raut wajah yang kau tunjukan
Tambahkan pekik dirasa dalam perasaan
Senja tak mau lepaskan tawaku
Ditawanya terbelenggu hingga layu
Senyumanpun tak kan kau dapati
Hingga terpaku tak mampu berdiri
Selangkah ku gapai angan yang terlambat datang
Sadarku terbangun terbelalak akan suaramu garang
Ku tahan hatiku ikut berkata
Ku bungkam suaraku hingga diamku
Biarku rasa ini sendiri baik dalam hati
Ini cerita emas dan mutiara
Juga emas dan intan permata
Tak ditemukan angan dibui
Ditemukan lain hingga bulu kuduk berdiri
Terlupa datang untuk hargai langkah
Dipaksa ingat buat tambah bernanah
Dan hanya kata yang menjabarkanya
Diceritakanya kepada hati yang mulai menyadari
Suatu saat kebersamaan akan berakhir bahagia
Yakin terasa hingga terlupa
Aku di sini kau disana
Ingatkan aku ketika melangkah
Kau mungkin dia lelah
"antara Emas yang tak terlihat mata dan intan permata di jari nyata "
10 Desember 2014
Mengikuti nafas untuk berjalan dengan pikir. Melangkah dengan jari dan ikut menari. Memberikan goresan tinta memutar wajahmu. Memberikan rona indah di kehidupanmu. Ceritakan tentang awan. Bersenandung dengan hujan. Kehidupan mengalir berbutar. Silih berganti dan akan segera sadar. Kepadamu kita berjalan dengan rutenya. Jalan yang tertulis dengan sengaja. Ku biarkan jari ini tetap berjalan. Diatas mulai berputar dan mengolah angan.
Jumat, 12 Desember 2014
Jumat, 19 September 2014
Tulisan Pertama
Ini kisah
yang tak akan berakhir. Kisah ini berawal dari guyonan ringan yang tak sengaja
mengalir seperti air. Seperti filosofi yang pernah ada “ Kehidupan ini seperti
mampi ngombe”. Ya hanya sebentar dan setelah itu kita harus pergi kerumah kita
sebenarnya. Yang harus dipilih dengan semua konsekuensi yang ada. Surga dan
neraka, pilihan yang mengharuskan berbuat baik dengan aturan, atau berbuat se
enaknya tanpa pikiran. Inilah kehidupan dengan aturan yang ada tetapi kita
mnegikutinya dengan senang, dengan bahagia, senyuman, semangat. Kehidupan ini
kan lebih berarti dari pada sekedar
hanya membuat bahagia diri sendiri. Lebih daripada itu, kehidupan ini
kan menciptakan sebuah keharmonisan yang sangat luar biasa indahnya. Keindahan
yang tak akan ternilai dengan materi atau bisa dikatakan tak akan tergantikan
,oleh apapun yang ada di dunia ini. Kebahagiaan ini adalmah nikmat iman. Nikmat
yang akan membuat semua yang merasakanya menjadi lebih nyaman meniti kehiduoan
di dunia ini. Menciptakan kesabaran dalam suasana yang tak menentu, memberikan
kelapangan saat terhimpit serta menciptakan kebahagiaan yang tak akan ternilai.
Sekali lagi
ini adalah kehidupan yang telah lama dirasakan oleh semua orang. Dilalui dengan
putus asa, tergesa gesa atau sekedar menerima dan memberi tanpa aba-aba.
Mengikuti kata hati dan berjalan dengan ilmu yang telah dipelajari. Tak pernah
ada yang menyangka untuk tujuan hidup selanjutnya. Karena mereka mengetahui
bahwasanya kehidupan di dunia ini hanya sementara dan tak akan lama semua akan
sirna. Raga ini tak akan berharga lagi, setelah otot yang melekat di tulang ini
telah kembali bersama tanah dan ikut dikemah bersama nanah serta belatung
pembusuk yang membuat raga ini semakin remuk. Tak akan yang berdaya dibuatnya,
bahkan melihatmu tak ingin di buatnya. Melirik saja membuat ingin muntah apa
lagi melihat dengan mata melotot bisa pusing dan sakit beberapa hari dibuatnya.
Betapa tidak berharga raga ini. Raga yang dibanggakan dengan sejuta kata dan
puisi dalam sebuah tulisan akan kau buang begitu saja serasa tak ada gunanya.
Semua kata dan tindakanmu akan menjadi sebuah cerita anak cucumu kelak. Dengan
sejuta bumbu asin atau manis atau lebih parahnya pahit. Tak mengerti dengan
semua ini mkarena kehidupan ini memang sangat luar biasa.
Sadar
ketika sebuah sperma berlarian menuju sel telur. Belomba lomba dengan sekuat
tenaga, saling berebut sportif dan tetap menjaga agar semua baik baik saja. Dan
ketika pemenang ada, maka akan dibuahinya hingga menjadi sebuah bakal. Sebuah
bakan yang pada akhirnya terlahir dan menjadi manusia dengan ceritanya. Sebelum
terlahir ke dunia, mereka akan di beri beberapa pertanyaan. Yang akan mereka
pertanggungjawabkan ketika sudah usai semua tugas dan memang seharunya purna.
Kehidupan yang kau anggap nyata di dunia sangat terasa begitu fana pada
akhirnya.
Sadar
ataupun belum, pada akhirnya kita tidak akan menyangka bahwa apa yang telah
kita rencanakan akan menjadi sebuah kenyataan. Dengan perjuangan atau tidak itu
ada sebuah proses yang sebenarnya memang harus kita lalui. Tersadar di akhir
pekan, sebuah kisah ternyata sudah menyisip pada kehidupan kita. Dengan sebuah
skenario yang tak pernah di duga atau direncanakan tetapi secara kebetulan atau
lebih pastinya sudah digariskan dengan sememstinya. Inilah kehidupan kau anggap
lucu atau kau tertawakan tetap saja kau lalui dengan senang hati atau malah
terpaksa.
Jika
ditilik dari semua cerita yang pernah didengar, kehidupan ini adalah sebuah
pilihan yang mestinya harus kita pilih. Pilihan yang membuat kehidupan ini jadi
lebih bermanfaat dan membuat diri ini akan naik satu tingkat lebih dewasa.
Kedewasaan tak akan dapat kau ukur dengan sekedar melihat KTP lalu dilihat
tanggal lahirnya. Lebih dari itu kedewasaan akan nampak dari semua aspek yang dia lakukan. Sadar ataupun tidak tanpa kita melihat dan mengikuti perkembangan ereka kita tak akan mampu untuk melihat sikap dan perilaku mereka. tidak bisa menilai kedewasaan seseorang dengan hanyua melihat sekilas atau hanya sekali pandang. Perlu tahapan yang harus dilalui agar bisa mengetahui kedewasaan seseorang. Perilakunya akan segera terlihat ketika kita mengadakan kerja kelompok atau kegiatan yang harus dilakukan dengan banyak orang. Dengan kegiatan seperti itu amaka akan kita dapati bagaimana cara pikir mereka menghadapi masalah dan bagaimana cara menyelesaikan masalah tersebut dengan keadaan yang ada dan dengan tekanan yang mungkin dirasakan dengan keadaan yang ada.
Umumnya kedewasaan seseorang tak bisa di nilai dari dirinya sendiri, akan tetapi dari orang lain yang dekat dengan kita yang akan menilai bagaimana kedewasaan kita sekarang.
Selasa, 16 September 2014
Nyanyian malam
Nyanyian mu terdengar di setiap malamku
Suaramu jauh masih terus memburu
Tak merampas kebahagian atas jarak
Senyumanpun tak mau segera memihak
Kuputuskan melukis daun jatuh
Gugur bukan karena rapuh
Terbawa angin, tua ikut membuat lekas
Hempasan napas alam ikut membujurkannya kaku
Tanah kita telah lama subur
Rakyatnya harusnya ramai makmur
Bukan malah menjamur
Di jalanan kota semakin membuat pandangan blawur
Pemerintah bukan ngawur
Atau sekedar mengendurkan ikat pinggang mulai ngelantur
Sudah aku ingin tidur dulu
Beralaskan tikar kurasa sejak pertama bertemu
Dingin memelukku dini ini
Membuat tulang belulang terpikat tegangan tinggi
Dan aku terlelap ....
Suaramu jauh masih terus memburu
Tak merampas kebahagian atas jarak
Senyumanpun tak mau segera memihak
Kuputuskan melukis daun jatuh
Gugur bukan karena rapuh
Terbawa angin, tua ikut membuat lekas
Hempasan napas alam ikut membujurkannya kaku
Tanah kita telah lama subur
Rakyatnya harusnya ramai makmur
Bukan malah menjamur
Di jalanan kota semakin membuat pandangan blawur
Pemerintah bukan ngawur
Atau sekedar mengendurkan ikat pinggang mulai ngelantur
Sudah aku ingin tidur dulu
Beralaskan tikar kurasa sejak pertama bertemu
Dingin memelukku dini ini
Membuat tulang belulang terpikat tegangan tinggi
Dan aku terlelap ....
Jumat, 05 September 2014
Rabu, 25 Juni 2014
Untukmu hujan
Kepada mu mungkin kisah ini akan ku bagi
Dan akan lebih kau mengerti suatu hari nanti
Sebenarnya apa yang berkeling di mata ini
Dan apakah yang kau rasa ketika melihatnya bersama di hati
Ketika dirimu membuat jejak dulu
Tak ada hentinya rasanya cerita tentangmu
Tentang hujan yang kau ceritakan
Tentang awan biru yang mendambakan
Melati, ingin rasanya ku memetikmu
Ingin ku rawat sebagai pengaharum dan menenangkan hatiku
Di kala kegundahan menyapa menegur
Ingin kau menjadi pelipur dan mulai menghibur
Dengan suara rintik hujan, kau kan membelai dengan desiran angin semilir
Dan kan ku temukan menki ku berjalan menyelusuri sampai ke hilir
Untukmu senyuman yang memberikan kehangatan
Aku malu jadi diriku yang membalas senyumanmu
Ingin rasanya menertawakan diri ini
Sekali lagi hingga puas lalu berhenti
Kepadamu melati yang menyejukan hati
Suatu hari kau akan mengeti
Atau mungkin suatu hari ini kau telah tahu
Akan apa yang kau mengerti
Kamis, 19 Juni 2014
Hujan untuk ... D'Fitri_a dulu
Tak biarkan mendung untuk menutupi indahnya dunia
Hujan datang cerahkan dengan tetesannya
Kembali daun layu kering merayu
Segar hidup kembali menghijau
Tanah kering retak sambat kembali diam bungkam
Dinginnya membuat tenang terbenam
Kau banyak membuat mereka resah
Rintikanmu yang kian menjadi buat gundah
Tak suka mereka banyak jika kau berontak
Tak pakai akalmu untuk sekedar berbagi kurang bijak
Hujan ...
Awan biru kan hadir ketika mendung kau hapus dari langit
Dan dia aakan kembali tersenyum tak lagi sengit
Daun ranting itu ikut dengan dendanganmu
ketika rintik pagi siang yang tak kaku
Tersenum mereka pada dunia
Ingin katakan seseuatu kepada Sang pencipta
Dengarkan jatuhannya
Sementara hatimu gudah gulana kan jadi tersenyum nyata
Mz U_Wie:
Hujan ...
Melati itu masih putih tanpa goresan
Belum cukup tua untuk sebuah kepastian
Tapi dia akan tetap layu
Sebelum atau setelah dipetik penemu
Tak seindah mawar mekar
Tapi harumnya semerbak tak minta imbalan berlembar
Untukmu .. Hujan
Langganan:
Postingan (Atom)
